Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Advetorial » Kisah Inspiratif Mayjen TNI Kosasih: Sang ‘Jenderal Santri’ di Pucuk Komando Siliwangi

Kisah Inspiratif Mayjen TNI Kosasih: Sang ‘Jenderal Santri’ di Pucuk Komando Siliwangi

  • account_circle Doni
  • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
  • visibility 131
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANDUNG, inplusnews.com — Nama Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Kosasih, S.E., M.M., kini menjadi perbincangan hangat di Jawa Barat dan Banten. Menjabat sebagai Panglima Kodam III/Siliwangi, sosoknya membawa warna baru dalam kepemimpinan militer: perpaduan antara ketegasan prajurit komando dan kelembutan hati seorang santri.

Dibalik bintang dua yang tersemat di pundaknya, tersimpan kisah perjuangan hidup yang luar biasa—mulai dari kuli bangunan hingga dipercaya menjaga jantung pertahanan di Tanah Siliwangi.

Anak Guru Ngaji yang Pernah Jadi Kuli Bangunan

Lahir di Pandeglang pada 2 April 1971, Kosasih tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat religius. Ayahnya, almarhum Ust. H. Jufran Efendi, mendidiknya dengan disiplin spiritual yang ketat. Namun, keterbatasan ekonomi keluarga justru membentuk mental baja dalam dirinya.

Saat masih duduk di bangku sekolah di Jakarta, Kosasih tidak malu melakoni berbagai pekerjaan kasar demi membantu orang tua. Ia pernah menjadi:

  • Marbot Masjid: Membersihkan tempat ibadah dan menjaga masjid setiap hari.

  • Kuli Toko Bangunan: Mengangkut material berat sebelum berangkat sekolah.

  • Pedagang Asongan: Berjualan Es Mambo hingga menjajakan Teka-Teki Silang (TTS).

Doa di Balik Gerobak Mie Ayam

Sebuah peristiwa di masa remaja mengubah jalan hidupnya selamanya. Saat sedang menikmati mie ayam, ia menyaksikan tindakan arogan oknum aparat terhadap pedagang kecil. Alih-alih membenci institusinya, Kosasih justru berdoa dengan tulus.

“Ya Allah, jadikanlah saya tentara yang mampu memperbaiki akhlak tentara. Saya ingin menjadi pengayom masyarakat,” kenangnya. Doa itu membawanya mendaftar AKABRI secara diam-diam hingga akhirnya lulus Akmil tahun 1993.

  • Penulis: Doni
  • Editor: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less