Bantah Bantahan Menkeu Purbaya dan KDM: Menguak Peran Khusus BJB untuk Menepis Salwa Sangka
- account_circle Kang Asri ( Sekretaris Jenderal BAN)
- calendar_month Senin, 27 Okt 2025
- visibility 267
- comment 0 komentar
- print Cetak

Polemik Purbaya vs KDM: Sekjen Baladhika Dorong BPK RI Periksa BJB, Bongkar Peran Khusus di Balik Salwa Sangka
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Bandung, inplusnews.com, “Bantah Bantahan Menkeu Purbaya dan KDM: Menguak Peran Khusus BJB untuk Menepis Salwa Sangka” – Sekjen Baladhika Adhyaksa Nusantara, Asep Riyadi, ( Kang Asri ) mendorong BPK RI segera Periksa BJB
Polemik kritik dan bantahan yang melibatkan Menteri Keuangan Purbaya dan Ketua Dewan Komisioner KDM, serta sorotan khusus pada peran Bank Jabar Banten (BJB) dalam konteks transparansi dan integritas. Melalui refleksi kritis dan nuansa filosofis, kita diajak merenung bagaimana keterbukaan peran lembaga seperti BJB dapat menjadi penangkal utama dari prasangka buruk terhadap para pelaku jujur dalam dunia perbankan dan pemerintahan.
Ketika kita berbicara tentang transparansi dan kejujuran, kata-kata menjadi pedang bermata dua. Terutama di ranah ekonomi dan pemerintahan, di mana keputusan dan peran saling bertaut, kadang kala pembicaraan berubah menjadi arena bantah dan sangka. Baru-baru ini, dinamika antara Mantan Menteri Keuangan Purbaya dan Ketua Dewan Komisioner (KDM) menjadi pusat perhatian, di mana peran khusus Bank Jabar Banten (BJB) semakin perlu untuk dibuka demi meminimalisasi ‘salwa sangka’—prasangka buruk terhadap pihak-pihak yang sebenarnya jujur.
Memahami konteks ini, kita perlu melakukan perjalanan yang jauh ke dalam fakta dan niat, meninggalkan ruang kebingungan yang sering diciptakan oleh opini tanpa tonggak kebenaran. Purbaya, sebagai mantan pejabat yang membawa beban keputusan dan KDM yang mengawasi mekanisme pengendalian, menunjukkan dua sisi mata uang dari birokrasi dan tata kelola. Semua ini membangun panggung bagi BJB, yang berperan sebagai institusi perbankan sistemik sekaligus arena ujian bagi integritas.
Keterbukaan Sebagai Jalan Keluar
Mengapa kita perlu membuka peran khusus BJB? Data dan pengamatan dari para ahli keuangan, seperti para ekonom dari Universitas Gadjah Mada, menyebutkan bahwa institusi yang tidak transparan akan selalu menjadi ladang subur bagi persepsi publik yang salah. Bahkan yang paling jujur pun bisa tercebur ke dalam jebakan ‘salwa sangka’, yang menggerogoti reputasi dan kepercayaan.
Bukalah data keuangan, kebijakan internal, dan skema pengawasan untuk publik. Transparansi semacam ini bukan hanya memudahkan investigasi dan audit, tetapi juga menegaskan posisi BJB sebagai pelindung nilai keuangan regional yang sehat. Ketika masyarakat bisa mengakses informasi dengan jelas, mereka akan lebih sigap menghindari jebakan prasangka yang tidak berdasar.
Filosofi “Jujur Tapi Tidak Terlihat”
Dalam perbincangan filosofi sosial, ada pepatah yang mungkin relevan: “Jujur tapi tidak terlihat, ibarat pohon di hutan yang roboh tanpa suara.” Banyak pejabat atau institusi yang berbuat benar, namun kurang dalam mempublikasikan kebaikannya. Ini membuka ruang bagi tudingan dan gossip yang menyebar tanpa fondasi.
Maka dari itu, hebatnya BJB jika mampu menjadi ‘pohon yang terlihat dan terdengar’, bukan hanya berdiri kokoh tapi juga aktif berkomunikasi. Peran khusus dalam skema pengelolaan keuangan harus diliputi oleh ketulusan yang terekam dalam dokumentasi terbuka dan pengelolaan proyek yang dapat dipertanggungjawabkan. Ini bukan tugas yang ringan, tetapi sesuatu yang sangat urgensi dalam era digital.
Bayangkan jika BJB tidak membuka perannya dan publik malah berasumsi bahwa itu seperti monyet yang sembunyi di balik tirai—meskipun itu monyet yang paling jujur di dunia! Tentu saja, kesalahpahaman semacam ini bisa memicu ‘ramai-ramai tuduhan’ yang tidak sehat di media sosial.
Kita semua tentu ingin melihat institusi keuangan regional bertenaga dan terpercaya tanpa bayang-bayang kecurigaan seperti itu. Maka, mari dukung keterbukaan agar yang jujur tidak perlu merasa seperti ‘monyet di balik tirai’ dan yang bersalah tidak punya tempat bersembunyi.
Dalam dunia yang penuh kompleksitas ini, kebenaran sering kali tersembunyi dalam lapis-lapis persepsi dan bantahan. Ini tugas kita, para pelaku dan pengamat sosial, untuk mengurai benang kusut kebingungan dengan sinar keterbukaan dan kejujuran.
Membuka peran khusus BJB bukan hanya soal prosedur teknis, melainkan juga deklarasi moral bahwa integritas harus menjadi pondasi terkuat dalam membangun kepercayaan publik. Bersama-sama, kita layak memiliki lembaga yang bukan hanya tepercaya, melainkan juga mampu menyuarakan kejujuran tanpa hambatan prasangka.
Saya setuju dengan KDM agar BPK RI segera melalukan telusur akan kondisi tersebut dan jika perlu melibatkan Audit Independen,
Hal ini dianggap krusial karena informasi dari Mentri Keuangan adalah info yang perdana dalan pengelolaan dana Otonomi Daerah.
Jika benar, hal ini tentu sangat merugikan masyarakat, karena mungkin saja modus ini sudah berjalan bertahun tahun, bahkan sebelum KDM menjabat sebagai Gubernur dan Purbaya brlun menjadi Mentri.***“Bantah Bantahan Menkeu Purbaya dan KDM: Menguak Peran Khusus BJB untuk Menepis Salwa Sangka”
- Penulis: Kang Asri ( Sekretaris Jenderal BAN)
- Editor: Redaksi


