Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sosial Budaya » 37 Tahun MHABD di Pendopo, Farhan Ingatkan Bahaya Kesenjangan Sosial di Kota Bandung

37 Tahun MHABD di Pendopo, Farhan Ingatkan Bahaya Kesenjangan Sosial di Kota Bandung

  • account_circle Admin
  • calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
  • visibility 103
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Bandung, inplusnews.com, – Suasana penuh kehangatan dan kebersamaan menyelimuti Pendopo Kota Bandung saat Mimbar Hiburan dan Amal Bagi Dhuafa (MHABD) kembali digelar, Rabu (11/2/2026). Memasuki tahun ke-37, kegiatan sosial ini tetap konsisten menjadi ruang berbagi bagi anak yatim dan masyarakat kurang mampu.

Tradisi 37 Tahun yang Sarat Nilai Kemanusiaan

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan rasa syukurnya dapat hadir langsung dalam tradisi yang telah berlangsung sejak 1990 tersebut. Ia menilai MHABD bukan sekadar agenda tahunan, melainkan simbol kepedulian sosial yang telah mengakar kuat di Kota Bandung.

“Selama 37 tahun kegiatan ini terus berjalan di Pendopo. Saya bersyukur bisa hadir langsung dalam tradisi yang sarat makna ini,” ujar Farhan.

Menurutnya, anak yatim dan dhuafa memiliki posisi penting sebagai pengingat moral bagi masyarakat. Kehadiran mereka, kata Farhan, menjadi refleksi nilai kemanusiaan yang harus terus dijaga oleh seluruh warga kota.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan sambutan dalam acara MHABD ke-37 di Pendopo Kota Bandung bersama ratusan anak yatim dan dhuafa.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan sambutan dalam acara MHABD ke-37 di Pendopo Kota Bandung bersama ratusan anak yatim dan dhuafa.

Farhan Soroti Potensi Kesenjangan Sosial di Bandung

Dalam kesempatan itu, Farhan juga menyinggung kondisi sosial ekonomi Bandung. Meski sejumlah indikator makro menunjukkan tren positif seperti peningkatan pendapatan per kapita dan penurunan angka pengangguran, ia mengingatkan adanya potensi kesenjangan sosial yang perlu diwaspadai.

“Kita tidak boleh terlena. Ketimpangan bisa muncul ketika sebagian masyarakat bergerak maju lebih cepat, sementara yang lain tertinggal,” ungkapnya.

Karena itu, ia mengajak warga yang memiliki kemampuan lebih untuk aktif membantu lingkungan sekitar. Setiap bentuk kepedulian dinilai sebagai langkah konkret untuk memperkecil jarak sosial di tengah masyarakat.

“Kepedulian tidak boleh berhenti pada wacana. Ia harus menjadi kesadaran dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Kolaborasi Pemerintah dan Seniman Jadi Kekuatan MHABD

Farhan juga memberikan apresiasi kepada para seniman dan komunitas kreatif yang selama ini setia mendukung MHABD. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku seni menjadi fondasi utama keberlangsungan kegiatan ini.

“Ketika empati dan kreativitas berjalan beriringan, lahirlah energi positif untuk kota yang kita cintai,” tuturnya.

Pasangan disabilitas yang dinikahkan mengikuti kegiatan MHABD ke-37 di Pendopo sebagai wujud kepedulian sosial Kota Bandung
Pasangan disabilitas yang dinikahkan mengikuti kegiatan MHABD ke-37 di Pendopo sebagai wujud kepedulian sosial Kota Bandung

Yayasan MHABD Terus Kembangkan Program Sosial

Sementara itu, Ketua Yayasan MHABD Selvi Lusiana menjelaskan bahwa kegiatan ini berawal dari niat sederhana untuk menyampaikan kebaikan melalui hiburan yang sarat makna. Seiring waktu, MHABD berkembang menjadi gerakan sosial yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat.

“Semua berangkat dari niat tulus untuk berbagi. Hiburan menjadi medium agar pesan kebaikan tersampaikan dengan hangat dan penuh kasih,” ujarnya.

Selvi menambahkan, selama lebih dari tiga dekade yayasan telah mengembangkan berbagai program sosial, di antaranya Mapak Munggah Ramadan, Jumat Berkah, Rumah Tahfiz Quran, bantuan bencana, pemeriksaan mata dan pembagian kacamata gratis, serta pelatihan kemandirian masyarakat.

Lebih dari 500 Peserta Hadiri MHABD ke-37

Kegiatan MHABD ke-37 dihadiri lebih dari 500 peserta, termasuk anak yatim dan dhuafa dari berbagai wilayah Kota Bandung. Hadir pula Wali Kota Bandung periode 2003–2013 Dada Rosada beserta istri Nani Suryani, serta sejumlah seniman senior seperti Sam dan Jaka Bimbo.

Pelaksanaan MHABD tahun ini kembali menegaskan bahwa Pendopo Kota Bandung bukan hanya pusat aktivitas pemerintahan, tetapi juga ruang kebersamaan yang terbuka dan hidup bagi seluruh warga.***

  • Penulis: Admin
  • Editor: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less