Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pariwisata » Wayang Wong Priangan “Jabang Tutuka” Hidup Kembali di Pendopo Kota Bandung, Disambut Generasi Muda

Wayang Wong Priangan “Jabang Tutuka” Hidup Kembali di Pendopo Kota Bandung, Disambut Generasi Muda

  • account_circle Doni
  • calendar_month Minggu, 24 Agt 2025
  • visibility 161
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Bandung, inplusnews.com – Suasana Pendopo Kota Bandung pada Sabtu malam (23/8/2025) begitu semarak. Ratusan penonton, mayoritas generasi muda, rela antre sejak pukul 17.00 meski pertunjukan baru dimulai dua jam kemudian. Mereka ingin menyaksikan Wayang Wong Priangan lakon “Jabang Tutuka”, sebuah pertunjukan langka yang dibawakan mahasiswa dan dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.

Pertunjukan ini diprakarsai oleh Prof. Dr. Hj. Een Herdiani, M.Hum, dosen senior ISBI Bandung yang konsisten melestarikan seni pertunjukan tradisi Jawa Barat. Menurutnya, pementasan ini bagian dari program Dana Indonesiana untuk Pendayaan Gunaan Ruang Publik, yang bertujuan menghidupkan kembali kesenian tradisi di ruang publik perkotaan.

Wayang Wong 003

Prof. Dr. Hj. Een Herdiani, M.Hum, dosen senior ISBI Bandung/ Pemprakarsa Pertunjukan

Wayang Wong Kembali ke Rumah Sejarah

Een menjelaskan, Pendopo Kota Bandung dipilih bukan tanpa alasan.

“Pendopo Kota Bandung dulunya adalah ruang pertunjukan kesenian, termasuk Wayang Wong Priangan, sebelum dan sesudah kemerdekaan hingga tahun 60-an. Kami ingin masyarakat tahu bahwa kesenian ini pernah hidup di sini, dan kini kami hadirkan kembali,” ujarnya.

Menurut Een, pertunjukan ini juga menjadi sarana edukasi generasi muda. Tradisi yang hampir punah perlu diperkenalkan sejak dini agar tetap dikenal dan diapresiasi.

“Wayang Wong berbasis tradisi, tapi kami kemas dengan sentuhan baru agar bisa diterima anak muda. Malam ini saya terharu melihat antusiasme, banyak sekali penonton anak muda yang datang lebih awal karena takut tidak kebagian tempat,” tambahnya.

Een berharap pementasan bisa menjadi agenda rutin pemerintah daerah sekaligus aset pariwisata.

“Kalau rutin ditampilkan, Wayang Wong bisa jadi daya tarik wisata domestik maupun mancanegara. Kami ingin karya ini bukan hanya tontonan, tapi juga bagian dari industri kreatif. Untuk itu, dukungan manajerial dan pemerintah sangat diharapkan,” ungkapnya.

Pertunjukan Wayang Wong Jabang Tutuka.00 07 59 12.still006

Muhammad Mughni Munggaran, S.Sn., M.Sn. – sutradara pertunjukan

Tantangan Pementasan di Ruang Publik

Sang sutradara pertunjukan, Muhammad Mughni Munggaran, S.Sn., M.Sn. mengakui banyak tantangan ketika Wayang Wong tampil di Pendopo Bandung.

“Tantangannya, waktu eksplorasi di pendopo sangat terbatas. Latihan lighting, pola lantai, dan musik harus diulang-ulang karena penataan ruang berbeda dengan panggung tertutup,” jelasnya.

Jumlah penonton yang membludak juga membuat tim harus cepat beradaptasi.

“Beberapa area yang semula untuk menari, akhirnya jadi area penonton. Bahkan saat pertunjukan, kami harus briefing mendadak agar penari masuk dari dalam, bukan dari luar, supaya penonton tetap nyaman. Tapi alhamdulillah hasilnya memuaskan,” ucapnya haru.

Ia menambahkan, pertunjukan masih akan terus dieksplorasi terutama dari segi musik.

“Kami ingin mencari formula musik yang kuat secara tradisi, tapi tetap kekinian. Harapannya, setelah ini Wayang Wong Priangan bisa tampil bukan hanya di Bandung, tapi juga Jakarta, Bogor, Solo, dan kota lainnya,” imbuhnya.

Antusiasme Penonton Jadi Harapan Seniman

Pagelaran Wayang Wong Priangan lakon Jabang Tutuka malam itu bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah pernyataan bahwa seni tradisi Priangan masih hidup dan relevan. Antusiasme generasi muda memberi optimisme bahwa Wayang Wong tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga bisa berkembang menjadi bagian dari industri kreatif modern.

  • Penulis: Doni
  • Editor: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less