Kades Asep Menggagas Pendirian Pusat Pengelolaan Sampah Reduce Reuse Recycle Pts3r Di Tingkat Desa. Sejak Itu Cangkuang Wetan Tidak Lagi Mengirimkan Sampah Ke Luar Wilayah
KABUPATEN BANDUNG, inplusnews.com, “Cangkuang Wetan Jadi Desa Mandiri Sampah: Inovasi Energi dan Pangan dari Tangan Kades Asep Kusmiadi” — Desa Cangkuang Wetan di Kabupaten Bandung menjadi contoh nyata bagaimana persoalan sampah dapat diubah menjadi sumber energi, pangan, dan ekonomi produktif. Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Asep Kusmiadi, S.Pd.I., M.Pd., wilayah ini resmi menyandang status sebagai desa mandiri sampah, di mana seluruh limbah rumah tangga dikelola tuntas tanpa keluar dari desa.
“Sejak tahun kemarin, sampah di Cangkuang Wetan tidak keluar lagi dari desa,” ujar Asep saat ditemui di lokasi pengolahan sampah terpadu, pekan ini.
Dari Sampah Liar Jadi Energi Terbarukan
Perjalanan Cangkuang Wetan menuju desa bebas sampah dimulai sejak 2020, tidak lama setelah Asep dilantik menjadi kepala desa. Saat itu, tumpukan sampah liar masih ditemukan di hampir setiap RW. Kondisi ini mendorong pemerintah desa mencari solusi jangka panjang agar masalah tidak menjadi “bom waktu”.
Awalnya, pengelolaan dilakukan secara konvensional melalui kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (LH), di mana sampah diangkut dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti. Namun, keterbatasan fasilitas dan jarak membuat sistem ini tidak berkelanjutan.
Pada 2022, Asep menggagas pendirian Pusat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (PTS3R) di tingkat desa. Sejak itu, Cangkuang Wetan tidak lagi mengirimkan sampah ke luar wilayah.
“Kami menerapkan sistem insinerator agar sampah bisa diolah langsung di sini. Nilai tambahnya, dana yang dulu untuk retribusi kini digunakan untuk upah pekerja lokal pengolah sampah,” jelasnya.
Inovasi Teknologi: Dari Insinerator ke Mesin “UNPAS”
Tidak berhenti di sana, pemerintah desa kemudian menciptakan inovasi baru melalui mesin “UNPAS” —alat multifungsi yang mampu mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar gas, BBM, aspal, hingga energi listrik hasil kerjasama dengan Universitas Pasundan Bandung.
“Sampah anorganik kami bakar dan olah menjadi energi. Ini sejalan dengan konsep kemandirian energi yang dicanangkan pemerintah,” ungkap Asep.
Langkah inovatif itu menjadikan Cangkuang Wetan salah satu desa pionir dalam pengembangan teknologi pengolahan sampah berbasis energi terbarukan di Jawa Barat.

Rumah Magot dan Ekonomi Sirkular
Selain menangani sampah anorganik, Asep juga fokus mengelola limbah organik. Ia membangun Rumah Magot sebagai pusat produksi pakan ternak alami berbasis kompos dan larva lalat black soldier fly (BSF).
“Sampah organik kami olah jadi magot. Magot itu kami pakai untuk pakan ayam, ikan, dan bebek,” jelasnya.
Hasilnya mulai terlihat. Dari 216 ayam petelur yang dibudidayakan, sebanyak 165–170 butir telur dihasilkan setiap hari. Telur-telur tersebut kini menjadi produk unggulan desa sekaligus bukti nyata penerapan ekonomi sirkular, di mana limbah rumah tangga kembali bernilai ekonomi.
“Dari sampah rumah tangga, keluar gas dan telur ayam. Anorganik jadi energi, organik jadi pangan. Semua saling terhubung,” ujar Asep.
Dampak Ekonomi dan Serapan Tenaga Kerja
Program pengolahan sampah di Cangkuang Wetan bukan hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga membuka lapangan kerja. Saat ini terdapat sekitar 20 tenaga kerja lokal, terdiri dari petugas lapangan, penyortir, operator magot, hingga tim manajemen.
Setiap hari, tim tersebut mengolah lebih dari 12 ton sampah yang berasal dari Cangkuang Wetan dan desa-desa sekitar seperti Cangkuang Kulon, Sekamenak, Margahayu, dan Pasawahan.
Selain menghasilkan energi dan pakan, limbah plastik juga diolah menjadi paving block ramah lingkungan yang akan digunakan dalam pembangunan infrastruktur desa melalui program padat karya.
“Nantinya paving block ini akan dibeli pemerintah desa dari BUMDes. Jadi selain ramah lingkungan, PAD desa juga ikut bertambah,” kata Asep.
Menuju Desa Mandiri Energi dan Pangan
Keberhasilan Desa Cangkuang Wetan dalam mengintegrasikan pengelolaan sampah, energi, dan pangan menjadi inspirasi bagi desa lain. Asep menargetkan konsep ini dapat direplikasi di wilayah lain, sejalan dengan program nasional menuju kemandirian energi dan pangan berbasis desa.
“Desa bisa menjadi pusat inovasi. Kalau serius, sampah justru jadi potensi, bukan masalah,” tutupnya optimistis.***“Cangkuang Wetan Jadi Desa Mandiri Sampah: Inovasi Energi dan Pangan dari Tangan Kades Asep Kusmiadi”