Bandung Perkuat RBM: Langkah Strategis Wujudkan Kota Ramah Disabilitas dan Bebas Stigma
- account_circle Doni
- calendar_month 46 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Diskusi Kolaborasi Inklusif Pemberdayaan Disabilitas Antara Pemkot Bandung Dan Pengurus RBM
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BANDUNG, inplusnews.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mempertegas langkahnya dalam menciptakan ruang publik yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat. Melalui penguatan peran Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM), Bandung diproyeksikan menjadi kota yang benar-benar inklusif dan ramah bagi para penyandang disabilitas.
Visi tersebut ditegaskan oleh Aryatri Benarto Farhan, Ketua RBM Kota Bandung periode 2026-2030, dalam acara pelantikan pengurus di Bandung, Rabu (13/5/2026). Sebagai orang tua dari anak berkebutuhan khusus (ABK), Aryatri membawa perspektif emosional sekaligus strategis dalam memimpin lembaga ini.
Kota Inklusif Bandung RBM: Misi Penghapusan Stigma dan Diskriminasi
Dalam sambutannya, Aryatri menyoroti urgensi pembangunan lingkungan yang aman dan nyaman bagi individu berkebutuhan khusus. Baginya, aksesibilitas bukan sekadar fasilitas fisik, melainkan ketiadaan stigma negatif di tengah masyarakat.
“Ketakutan terbesar orang tua anak disabilitas adalah masa depan mereka saat kami sudah tidak ada. Mimpi besar saya adalah menjadikan Bandung wilayah yang bebas stigma, di mana aksesibilitas dan rasa nyaman menjadi hak setiap warga tanpa terkecuali,” tegas Aryatri.
Ia menambahkan bahwa mewujudkan ekosistem inklusif merupakan tanggung jawab kolektif yang melibatkan lintas sektor, mulai dari perangkat daerah hingga komunitas akar rumput.

Sinergi Inklusif: Pemkot Bandung melalui RBM berkomitmen menghadirkan infrastruktur dan ekosistem sosial yang ramah bagi seluruh penyandang disabilitas (13/5/2026).
Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM) Sebagai Pusat Kolaborasi (Melting Pot)
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, yang hadir dalam pelantikan tersebut menyatakan bahwa RBM harus bertransformasi menjadi wadah kolaborasi (melting pot) bagi berbagai ide pemberdayaan. Keterlibatan akademisi, pelaku usaha, seniman, hingga budayawan menjadi kunci utama.
Farhan menekankan beberapa prioritas pembangunan fisik ke depan:
Infrastruktur Ramah Extreme User: Setiap pembangunan fasilitas publik, tempat olahraga, hingga rumah ibadah wajib mempertimbangkan kebutuhan penyandang disabilitas.
Insentif Dunia Usaha: Pemerintah mendorong sektor swasta untuk membuka lowongan kerja bagi disabilitas dengan menyiapkan skema insentif khusus bagi perusahaan yang inklusif.
Olahraga Sebagai Sarana Mentalitas Juara
Menyongsong Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) 2026, Wali Kota memastikan Bandung siap menjadi tuan rumah yang representatif. Baginya, olahraga bukan sekadar kompetisi fisik atau penggerak ekonomi, melainkan medium efektif untuk membangun rasa percaya diri dan mentalitas berprestasi bagi penyandang disabilitas.
“Bekerja di RBM adalah bentuk kerelawanan murni. Ini bukan soal mencari popularitas, tapi bagaimana kita memberdayakan sesama dan menjawab dinamika persoalan sosial di tengah masyarakat,” tutup Farhan.***
- Penulis: Doni
- Editor: Redaksi

Saat ini belum ada komentar