Pondok Pesantren Nurul Ulum Al-Qur’ani (YANURU) di Kampung Tipar, Desa Naringgul, Kabupaten Cianjur
CIANJUR, inplusnews.com, “Pesantren YANURU Naringgul Jadi Harapan Baru Pendidikan Al-Qur’an: 425 Santri Belajar di Tengah Keterbatasan Fasilitas” — Di tengah keterbatasan sarana dan minimnya akses pendidikan agama, Pondok Pesantren Nurul Ulum Al-Qur’ani (YANURU) di Kampung Tipar, Desa Naringgul, Kabupaten Cianjur, tumbuh menjadi salah satu pusat pembelajaran Al-Qur’an yang paling aktif di wilayah selatan Cianjur. Berdiri sejak 2009, pesantren yang dipimpin Ustadz Cecep Hidayat itu kini menampung 425 santri mukim dan hampir 600 peserta jika digabung dengan program TPQ dan PAUD berbasis Al-Qur’an.
Namun, di balik perkembangan pesat tersebut, YANURU masih harus bergulat dengan fasilitas yang jauh dari mencukupi.

Berangkat dari Keprihatinan: 60 Persen Siswa SMP–SMA Tidak Bisa Baca Al-Qur’an
Ustadz Cecep mengisahkan, alasan ia mendirikan pesantren di Kampung Tipar berawal dari keprihatinan mendalam terhadap kondisi anak-anak di wilayah itu.
“Ketika guru PAI mengetes baca tulis Al-Qur’an kelas 9, hanya 20 persen yang bisa. Enam puluh persen tidak bisa membaca Al-Qur’an. Saya merasa terpanggil,” ujarnya.
Meski bukan putra asli Tipar — beliau berasal dari Desa Wanasari dan istrinya dari Desa Malati — panggilan dakwah membuatnya menetap dan membangun pendopo pesantren sederhana pada 2009. Dari santri yang datang seadanya, YANURU terus berkembang dan tak pernah sepi hingga hari ini.
Pesantren Salafiyah Tanpa Sekolah Formal: Fokus Pada Ilmu Agama Murni
Berbeda dari banyak pesantren modern yang menggabungkan sekolah formal di dalamnya, YANURU memilih tetap pada pola salafiyah, yaitu tanpa pendidikan formal internal.

Kurikulumnya merupakan gabungan dari kurikulum pesantren salafiyah dan referensi Kementerian Agama. Ilmu yang diajarkan meliputi:
- Ilmu Tauhid
- Akhlak
- Fikih
- Tasawuf
- Kajian kitab kuning
- Program tahfiz Al-Qur’an
Saat ini terdapat dua jalur pembelajaran utama:
- Tahfiz Al-Qur’an
- Pendalaman kitab kuning
Program Tahfiz Melesat: 10 Hafiz 30 Juz dan Lulusan Masuk UIN & UNPAD Lewat Jalur Beasiswa
Prestasi paling menonjol dari YANURU adalah program tahfiz.
Ustaz Cecep menjelaskan:
- Hafiz 30 juz yang sudah lahir dari YANURU: lebih dari 6 orang
- Hafalan 15–25 juz: puluhan santri
- Pada program GP2Q (Gerakan Penghafal Al-Qur’an) 2020, tercatat 32 santri berhasil mencapai target tahfiz

Program tahfiz di sini memiliki target jelas:
5 juz per tahun, sehingga dalam 6 tahun santri ditargetkan khatam 30 juz.
Setiap kelulusan tahapan disertai sertifikat:
- Sertifikat 5 juz
- 10 juz
- 15 juz
- 20 juz
- dan seterusnya
Bukti ini menjadi modal penting bagi santri yang melanjutkan pendidikan.
“Ada yang diterima di UIN dengan beasiswa jalur tahfiz. Ada yang masuk UNPAD juga lewat jalur hafalan,” kata Ustaz Cecep.
Beberapa lulusan bahkan kembali mengabdi sebagai pengajar di pesantren.

TPQ dan PAUD Qurani Jadi Gerbang Awal Anak Sebelum Mondok
YANURU juga membuka:
- TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an)
- PAUD Qur’ani / PAUDQ (Pendidikan Usia Dini Qur’an)
Program ini ditujukan untuk mengenalkan dunia pesantren sejak dini.
“Agar mereka nyaman dulu di lingkungan pesantren. Ketika lulus SD, mereka sendiri yang ingin mondok, tanpa disuruh orang tua,” jelasnya.
Program ini membuat YANURU memiliki total hampir 600 peserta didikan.
Wisuda Tahunan: Dari Juz Amma Hingga Kitab Kuning Tingkat Tinggi
Setiap tahun, tepatnya bulan Syaban menjelang Ramadan, YANURU menggelar wisuda besar seluruh program, mulai dari:
- Hafalan Juz Amma
- Hafalan 5–30 juz
- Hafalan hadits Arba’in
- Hafalan kitab Jurumiyah, Imrithi, Alfia, Sorof
- Uji fikih (Sabīna, dan lainnya)
Wisuda ini dilakukan dengan pendekatan seperti sekolah formal untuk memberi motivasi dan rasa pencapaian kepada para santri.

Keterbatasan Fasilitas: 1 Kobong 20–30 Santri, Masjid Overkapasitas
Meski peserta didik terus bertambah, fasilitas pesantren justru menjadi tantangan besar.
“Kamar ukuran 5×6 meter seharusnya ideal untuk 10 orang. Di sini terpaksa diisi 20 hingga 30 orang. Itu sangat tidak manusiawi sebenarnya,” tutur Ustaz Cecep.
Tidak hanya tempat tinggal, masjid pun sudah overkapasitas.
Masjid lama berukuran 7×7 meter tidak mampu menampung 200 santri laki-laki sehingga salat berjamaah harus dibagi dua hingga tiga gelombang.
Renovasi masjid sudah dimulai, dengan rencana ukuran 11 x 14 meter, 3 lantai, tetapi saat ini baru sampai fondasi karena dana pembangunan terhenti lebih dari tiga bulan.
“Semua bangunan selama ini murni dari keringat sendiri, tidak ada bantuan rutin.”

Tenaga Pendidik 15 Orang, Mayoritas Sarjana
Dari sisi SDM, YANURU memiliki sekitar 15 tenaga pengajar, mayoritas lulusan pesantren dan sarjana. Jumlah ini termasuk pengampu PAUD Qurani.
Dengan komposisi tersebut, 425 santri mukim masih dapat dibagi dalam beberapa tingkatan pembelajaran.
Kendala Bantuan dan BOS: Santri Mondok, Sekolahnya di Luar
Keterbatasan bantuan pemerintah menjadi salah satu alasan fasilitas sulit berkembang.
Karena YANURU tidak memiliki sekolah formal di dalam, seluruh santri belajar di SMP atau SMA luar.
Akibatnya:
- Santri tidak terdaftar sebagai siswa lembaga formal pesantren
- Bantuan BOS maupun PIP masuk ke sekolah luar, bukan ke pesantren
- Pesantren menanggung pendidikan agama tanpa dukungan anggaran
“Secara ekonomi saya rugi. Anak mondoknya di sini, tapi BOS masuknya ke sekolah luar,” katanya.
Mengatasi hal itu, Ustaz Cecep berencana membuka sekolah formal di dalam pesantren. Namun rencana tersebut terhambat aturan zonasi serta minimnya jaringan dan dukungan.
Harapan Besar ke Depan: Menjadi Pesantren Modern Berbasis Al-Qur’an
Meski berakar pada tradisi salafiyah, Ustaz Cecep ingin YANURU membuka ruang lebih luas bagi santri untuk menghadapi tantangan zaman:
- Pendidikan formal SMP/SMA
- Pemahaman teknologi dan IT
- Bahasa asing
- Penguatan moral di era digital
- Bahkan cita-cita membuka perguruan tinggi pesantren di masa depan
“Saya ingin santri bukan hanya kuat agamanya, tapi juga mampu bersaing di dunia luar.”
Pesantren Kecil dengan Dampak Besar
YANURU mungkin berdiri di wilayah terpencil di selatan Cianjur, tetapi kontribusinya bagi pendidikan Al-Qur’an sangat besar. Dengan fasilitas terbatas, pesantren ini mampu melahirkan para hafiz, mencetak santri yang diterima di kampus besar, dan menjadi tempat belajar bagi ratusan anak setiap tahun.
Namun agar pesantren ini bisa melangkah lebih jauh, dukungan fasilitas dan akses bantuan menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda.***“Pesantren YANURU Naringgul Jadi Harapan Baru Pendidikan Al-Qur’an: 425 Santri Belajar di Tengah Keterbatasan Fasilitas”